Tugas_VCLASS_M10_WebScience
UNIVERSITAS GUNADARMA
Tugas VC M10
Pengantar Web Science
Fajar Arahman (50420445)
20/05/2022
IDENTITAS JURNAL
Nama : Pengukuran Kualitas Layanan Website Kementerian Kominfo Dengan Menggunakan Metode Webqual 4.0
Penerbit : Jurnal Penelitian IPTEK-KOM
Volume : 14
Nomor : 1
Tahun : 2012
Penulis : Iman Sanjaya
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika
Rangkuman
WebQual merupakan salah satu metode atau teknik pengukuran mutu website berdasarkan anggapan pengguna akhir. Metode ini merupakan pengembangan dari SERVQUAL yang banyak digunakan sebelumnya pada pengukuran kualitas jasa. WebQual sudah mulai dikembangkan sejak tahun 1998 dan telah mengalami beberapa interaksi dalam penyusunan dimensi dan butir pertanyaannya, Terdapat 3 area atau dimensi untuk kualitas yang telah disusun untuk WebQual 4.0 yang termuat di dalam Tabel 1 sampai Tabel 3
Versi awal atau pertama dari instrumen WebQual (WebQual 1.0) dikembangkan sebagai bagian dari hasil lokakarya yang diselenggarakan dengan melibatkan para siswa yang diminta untuk mempertimbangkan mutu website sekolah Berdasarkan analisis reliabilitas, tersisa 23 pertanyaan yang kemudian dikelompokkan menjadi empat dimensi utama,yaitu kemudahan penggunaan, pengalaman, informasi, komunikasi dan integrasi (Barnes dan Vidgen, 2001)
Kualitas yang diidentifikasi dalam WebQual 1.0 membentuk titik awal untuk menilai kualitas informasi dari suatu website di WebQual 2.0. Namun demikian, dalam penerapan WebQual, pada website berjenis B2C (Business to Consumer) terlihat jelas bahwa perspektif interaksi kualitas tidak terwakili dengan baik dalam WebQual 1.0
Pengembangan WebQual 2.0 memerlukan beberapa perubahan signifikan pada instrumen WebQual 1.0 . Dalam rangka memperluas model untuk kualitas interaksi, Barnes dan Vidgen (2001) melakukan analisis terhadap instrumen SERVQUAL dan membuat perbandingan rinci antara SERVQUAL dan WebQual 1.0 Tinjauan ini berhasil mengidentifikasi pertanyaan yang mubazir dan kemudian wilayah yang tumpang tindih dihapus, hasilnya sebagian besar pertanyaan- pertanyaan kunci dalam SERVQUAL tidak sesuai dengan WebQual 2.0, jumlah instrumen dengan 24 pertanyaan tetap dipertahankan (Barnes danVidgen, 2001).
WebQual 1.0 mungkin kuat dalam hal kualitas informasi, namun kurang kuat dalam hal interaksi layanan. Demikian juga untuk WebQual 2.0 yang menekankan kualitas interaksi menghilangkan beberapa kualitas informasi dari WebQual 1.0. Kedua versi tersebut mengandung berbagai kualitas terkait dengan website sebagai artefak perangkat lunak
Versi baru WebQual 3.0 telah diuji dalam domain lelang online (Barnes dan Vidgen, 2001). Analisis dari hasil WebQual 3.0 membawa pada identifikasi tiga dimensi dari kualitas website, yaitu kegunaan, kualitas informasi, dan kualitas interaksi pelayanan. Kegunaan adalah kualitas yang berkaitan dengan desain website, misalnya penampilan, kemudahan penggunaan, navigasi dan tampilan yang disampaikan kepada pengguna. Kualitas informasi adalah kualitas isi website, kesesuaian informasi untuk keperluan pengguna seperti akurasi, format, dan relevansi. Kualitas interaksi layanan adalah kualitas interaksi layanan yang dialami oleh pengguna ketika mereka mempelajari lebih dalam suatu website, diwujudkan oleh kepercayaan dan empati, misalnya masalah transaksi dan keamanan informasi, pengiriman produk, personalisasi, dan komunikasi dengan pemilik website (Barnes dan Vidgen, 2001)
Menurut teori WebQual, terdapat tiga dimensi yang mewakili kualitas suatu website, yaitu kegunaan (usability), kualitas informasi (information quality) dan interaksi layanan (service interaction) sebagaimana diilustrasikan dalam Gambar 2. Persepsi pengguna tentang suatu sistem informasi yang baik adalah sebuah sistem dimana pengguna merasa puas dengan kualitas dari website. Kualitas ini termuat dalam tiga dimensi dari WebQual versi 4.0. Penelitian sebelumnya menyarankan bahwa dimensi WebQual dapat memprediksi kepuasan pengguna dan maksud pengguna dalam menggunakan kembali website (Loiacono, 2002).
Berdasarkan model konseptual, penelitian ini memiliki hipotesis: H1: Terdapat hubungan positif antara kegunaan dan kepuasan pengguna. H2: Terdapat hubungan positif antara kualitas informasi dan kepuasan pengguna. H3: Terdapat hubungan positif antara interaksi kualitas layanan dan kepuasan.
Riset dilaksanakan memakai metode survei, dimana pengumpulan data primer dilakukan melalui penyebaran daftar pertanyaan (kuesioner) Sampel yang diambil sebesar 32 responden. Ukuran sampel ini serupa dengan riset yang dilakukan oleh Barnes serta Vidgen( 2001) dalam mengukur mutu web informasi. Sampel diseleksi secara purposive( judgment sampling) sebab responden wajib mempunyai kriteria pernah memakai web Kominfo sebelumnya, alhasil seluruh responden yang dipilih berasal dari karyawan internal Kominfo. Guna alasan efektivitas, di dalam kuesioner tidak ditanyakan hal profil responden semacam umur, pembelajaran, profesi serta serupanya, sebab memang informasi itu tidak dipakai dalam analisis.
Dari keseluruhan kuesioner yang didapat, yaitu sebesar 32 responden, dilakukan analisis data dengan memakai aplikasi SPSS 16. Tahap awal yang dilakukan merupakan dengan melaksanakan uji validitas serta reliabilitas dari pertanyaan pertanyaan dalam kuesioner. Pengujian validitas serta reliabilitas merupakan cara menguji butir- butir pertanyaan yang ada dalam suatu kuesioner, apakah isi butir pertanyaan telah valid serta reliabel. Bila butir- butir telah valid serta reliabel, berarti butir- butir itu sudah dapat dipakai buat mengukur faktornya Langkah selanjutnya adalah menguji apakah faktor-faktor sudah valid untuk mengukur konstruk yang ada. Dalam pengujian butir tersebut, bisa saja ada butir-butir yang ternyata tidak valid dan reliabel, sehingga harus dibuang atau diganti dengan pertanyaan yang lain (Santoso, 2006) Uji validitas dilakukan dengan melihat corrected item-total correlation dalam analisis faktor. Angka corrected item-total correlation berasal dari korelasi product moment antara butir pertanyaan yang akan diuji dengan total butir pertanyaan. Kemudian hasil korelasi tersebut disesuaikan dengan memperhitungkan varian yang ada, menghasilkan korelasi koreksi di atas. Untuk mendapatkan nilai corrected item-total correlation, dilakukan analisis principal component matrix dengan VARIMAX rotation. Pada Tabel 4 terlihat nilai corrected item-total correlation dari masing-masing 18 butir pertanyaan
Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Doll dan Torkzadeh dalam Tarigan (2008), butir pertanyaan ke-19, yaitu kesan keseluruhan pelanggan selalu diasumsikan valid. Sebenarnya tidak ada patokan baku untuk melakukan cut off pertanyaan yang dianggap tidak valid. Dalam penelitian ini kita merujuk pendapat dari Greg Pope (http://blog.questionmark.com/168, diakses 26 Januari 2011) yang merekomendasikan batas cut off sebesar 0,2. Jadi dalam penelitian ini butir pertanyaan dengan nilai corrected item total correlation kurang dari 0,2 akan dikeluarkan dari model penelitian.
Dari Tabel 4 bisa diamati kalau pertanyaan no 1, 2, 4, serta 11 nilainya kurang dari 0, 2 maka diduga tidak valid dan dikeluarkan dari model. Setelah ke- 4 pertanyaan itu dibuang kita jalani kembali analisis principal component matrix serta hasilnya sebagaimana termuat dalam Tabel 5 kalau seluruh biji pertanyaan sudah valid serta kita bisa meneruskan tahapan analisa lebih lanjut.
Uji reliabilitas dicoba dengan memeriksa nilai Cronbach's Alpha. Pengukuran dengan metode ini sudah dipakai secara luas di banyak riset Koefisien alpha digunakan sebagai ukuran konsistensi internal. Semakin nilainya mendekati 1, semakin besar konsistensi internal item-item di dalam kuesioner. Berdasarkan George dalam Tarigan (2008) terdapat aturan praktis yang dapat diterapkan terkait dengan nilai alpha, jika alpha > 0,9 berarti reliabilitas model sangat bagus, alpha > 0,8 berarti bagus, alpha > 0,7 artinya reliabilitas model bisa diterima, alpha > 0,6 berarti layak, alpha > 0,5 berarti model kurang bagus, dan alpha < 0,5 berarti model tidak dapat diterima. Dalam model ini, dari ke-14 (setelah dibuang empat) butir pertanyaan, kita peroleh alpha sebesar sebesar 0,865 (lihat Tabel 6) yang artinya model sudah sangat bagus. Dengan demikian, setelah melewati satu putaran, maka ke-14 butir di dalam kuesioner adalah valid dan reliabel
Penelitian ini bertujuan untuk memeriksa hubungan antara variabel dependen( kepuasan pemakai) serta variabel bebas( masing- masing dimensi dari WebQual versi 4. 0). Model analisis regresi atau bentuk persamaan struktural dapat dipakai untuk menuntaskan kasus yang melibatkan lebih dari 2 variabel( multivariat). Dalam penelitian ini diputuskan untuk memakai analisis regresi berganda, sebagaimana telah dilakukan oleh Loiacono et al( 2002).
Hasil dari analisis regresi dengan metode stepwise memberikan saran agar variabel INFOQUAL dikeluarkan dari model sebab tidak signifikan memberikan pengaruh pada kepuasan pengguna. Begitu pula dengan nilai konstanta regresi. Oleh sebab itu dilakukan regresi kembali tanpa mengaitkan konstanta serta variabel INFOQUAL. Hasil analisis regresi dapat diamati pada Tabel 7. Dengan demikian model regresi yang terbentuk merupakan
a) Dependent Variable: satisfaction
b) Linear Regression through the Origin
SATISFACTION = 0,492 USABILITY + 0,5INTERQUAL
a) Predictors : interqual
b) For regression through the origin (the no-intercept model), R Square measures the proportion of the variability in thedependent variable about the origin explained by regression.This CANNOT be compared to R Square for models which includean intercept.
c) Predictors : interqual, usability
Pada Tabel 8 diperoleh nilai R2 = 0,972. Artinya variabel independent (kegunaan dan kualitas interaksi) dapat menerangkan variabilitas sebesar 97,2 % dari variabel dependen (kepuasan pengguna), sedangkan sisanya diterangkan oleh variabel lain
a. Predictors : interqual
b. This total sum of squares is not corrected for the constant because the constant is zero for regression through the origin
Sedangkan dari Tabel 9, bisa diamati uji F yang nilainya signifikan(<0,05) sehingga model secara keseluruh bisa dianggap baik. Hasil analisa data membuktikan kalau salah satu dimensi dari WebQual 4.0 ialah dimensi kualitas informasi dianggap tidak berpengaruh terhadap kepuasan pengguna. Tentang ini bisa diinterpretasikan sebagai rendahnya kualitas informasi yang disampaikan melalui web Kominfo.
Tentang ini dapat diakibatkan karena terlambatnya kekinian sesuatu informasi yang diinformasikan( informasi tidak update), link mati, berita terlalu menyebar melampaui wewenang Kominfo, atau sebab- sebab yang lain. Sedangkan itu dari sisi metodologi, walaupun jumlah responden atau kuesioner serupa benar dengan apa yang disarankan oleh pencetus metode WebQual, dalam hal ini rasanya jumlah sampelnya terlalu sedikit maka menimbulkan adanya butir persoalan yang tidak valid, sementara itu dengan cara teori semua butir persoalan WebQual telah teruji validitas serta reliabilitasnya. Pemakaian model analisis regresi juga mungkin sedikit inferior bila dibanding dengan menggunakan model persamaan struktural yang dapat melakukan uji validitas dan reliabilitas secara simultan.
Comments
Post a Comment